Sabtu, 26 Oktober 2013

Sejarah Band Sepultura

Sejarah Band SEPULTURA
                                           sumber gbr: Sepultura
 

                                         
Ikon itu bernama “SEPULTURA”
Brasil di pertengahan tahun 1984, setelah hampir 20 tahun negara itu dipimpin oleh diktator militer. Musik rock masih dianggap tabu oleh sebagian orang-orang yang duduk di pemerintahan. Apalagi musik yang dimainkan jenis heavy metal dan punk, sangat-sangat tidak bisa diterima oleh pemerintahan Brasil saat itu. Memainkan musik heavy metal dan punk sudah dianggap tindakan subversif. Dari kawasan kumuh Belo Horizonte, kota terbesar ketiga di Brazil, Max Cavalera(vokal/guitar), Igor Cavalera (drum) , Paulo jr. (bass) dan Jairo t (lead guitar), mencoba mendobrak aturan-aturan primitif itu. Dengan peralatan seadanya mereka memainkan lagu-lagunya Iron Maiden, Metallica, dan Slayer. Kebetulan Max cuma punya tiga album dari Iron Maiden, Metallica, dan Slayer. Itu pun dibelinya saat ia berkunjung ke Sao Paulo.
Selang beberapa waktu kemudian, setelah mencoba mengadaptasi berbagai jenis sound. mereka akhirnya memutuskan untuk memainkan sound death metal. Kebetulan saat itu band-band death metal seperti Possessed dan Death sedang naik daun. “Sepultura”, nama itulah yang akhirnya mereka pakai. Sepultura dalam bahasa portugis artinya “kuburan”.
The Most Successful Brazilian Heavy Metal Band
No pain no gain, itu semboyan mereka dalam bermusik. saat itu mereka sudah membuat lirik untuk musik mereka dalam bahasa Inggris. Dan lucunya, mereka masih belum tahu bagaimana memainkan alat-alat instrument band dengan benar. Maklum, saat itu usia mereka baru belasan. Namanya juga darah muda, keinginan untuk maju besar sekali dan skill mereka pun makin terasah. Konser-konser di panggung lokal mereka jalankan untuk mengasah mental dan pengetahuan akan karakter sound. Sampai akhirnya Sepultura sudah disejajarkan dengan band-band underground di Brasil saat itu. Dan kesempatan untuk punya album sendiri pun datang, setelah mereka ditawari untuk rekaman oleh perusahaan rekaman indie Cogumelo Records. Nama Sepultura semakin bergaung seiring dengan dikeluarkanya album split LP dengan band Overdose. Mereka merekam 4 lagu di album tersebut. Tidak disangka album itu pun direspon sangat baik oleh pecinta musik metal di Brasil. Tahun 1985 akhirnya Sepultura merekam ulang lagu itu. Album yang direkam hanya dalam waktu 2 hari itu diberi titel “Bestial Devastation”.
Setelah wara-wiri di panggung musik lokal, pada tahun 1986 mereka masuk studio lagi untuk merekam album baru. Dengan waktu dan uang yang cekak, album itupun akhirnya kelar. Bulan Agustus 1986 album “Morbid Visions” dirilis. Morbid Vision menjadi tonggak awal keberhasilan Sepultura. Album itu mendapat pujian dari kritikus musik dan dari pecinta musik metal di Brasil. Untuk membuat karir bermusik lebih maju mereka akhirnya memutuskan untuk pindah ke Sao Paulo. Saat itu gitaris Jairo T. keluar dari Sepultura digantikan oleh Andreas Kisser, seorang gitaris asal Sao Paulo yang mempunyai kemampuan skill yang bagus. Andreas Kisser-lah yang membawa Sepultura ke level bermusik yang lebih berat.
1987 album “Schizophrenia” di rilis. Tapi karena kurangnya promosi, album ini pun tidak begitu mendapat respon dari kritikus dan pecinta metal. Di tahun yang sama, Sepultura memutuskan kontrak dengan Cogumelo Records, merasa albumnya perlu untuk mendunia, Sepultura melakukan lompatan besar dengan membuat deal kontrak dengan Roadrunner Records. Tahun 1989, album “Beneath the Remains” dirilis. Album ini ditangani oleh ahlinya sound metal, Scott Burns. “Beneath the Remains” membawa Sepultura ke level yang lebih tinggi. Mereka pun melakukan tour konser keliling Eropa dan Amerika. Dengan penampilan panggung yang garang membuat mereka menjadi salah satu band metal paling berpengaruh di tahun awal 90an. Lagu “Inner Self” dari album “Beneath the Remains” menjadi video klip pertama Sepultura. Sepultura mengakhiri tour panjang mereka ditanah kelahirannya dan mereka disambut bak pahlawan.
Setelah mendapatkan manajemen baru, Sepultura memutuskan untuk pindah ke Phoenix, Arizona. Tahun 1991 album “Arise” dirilis. Dengan hit single “Dead Embryonic Cells” . album “Arise” direkam di Morrisound Studios, masih dengan Scott Burns sebagai produsernya. Klip “Dead Embryonic Cells” diputar di MTV Amerika dan mendapatkan respon yang baik. Album “Arise” meledak di seluruh dunia, penghargaan platinum menjadi milik mereka seiring dengan dilakukan tour keliling dunia. Saat tour dunia inilah Max menikah dengan Gloria Bujnowski, cewek ini adalah manager band Sepultura. Dan yang gilanya lagi, umurnya si Gloria ini 2 kali lebih tua dari Max. Namanya juga cinta, apa aja juga diterkam.
Setelah sukses album “Arise”, pihak label Roadrunner melakukan negoisasi dengan Epic Records, menjadi rekanan untuk distribusi album-album Sepultura berikutnya. Tahun 1993, album “Chaos A.D.” dirilis, mengangkat tema isu-isu sosial yang sedang berkecamuk di Brasil, lagu “Territory” dan “Refuse/Resist” menjadi hit single di album ini. Dengan musik yang lebih berat dan sedikit terinfluence dengan punk dan hardcore, menjadikan album “Chaos A.D.” sebagai sukses kedua mereka di blantika musik metal.
Sebelum memulai project yang lebih ambisius lagi, mereka memutuskan untuk rehat dalam beberapa bulan setelah melakukan tour panjang keliling dunia. Tahun 1996, album “Roots” dirilis. Di album ini, mereka masih mengangkat lirik dengan tema-tema sosial politik. mereka mulai mencari bentuk-bentuk kreativitas yang baru dalam mengolah sound. di album ini mereka mulai bereksperimen dengan memasukkan instrument-instrument musik lokal brasil. Instrument perkusi yang cukup dominan di album “Roots” menjadikan album ini cukup unik. Dengan stem-an guitars yang down-tuned, membuat karakater sound di album “Roots” menjadi lebih berat. Album “Roots” menjadikan Sepultura di puncak popularitas.
Di saat popularitas mereka yang semakin tinggi, dengan jutaan fans yang tersebar di seluruh dunia, tidak bisa membuat hubungan antar personel Sepultura menjadi kian solid. Di antara mereka sudah terjadi perbedaan-perbedaan visi dalam bermusik. Dan puncaknya adalah ketika mereka akan tampil di Monsters of Rock Festival di London, Inggris. Beberapa jam sebelum tampil, mereka mendapat kabar bahwa putra dari Gloria Bujnowski meninggal karena mobil yang dikendarainya mengalami kecelakaan. Sepultura pun tampil bertiga di acara itu karena Max dan Gloria segera pulang ke Amerika. Selang beberapa bulan kemudian anggota band memaksa Max untuk mencari manajemen baru. Penyembuhan trauma pasca kematian putra dari Gloria membuat jadwal tour mereka jadi terbengkalai. Merasa anggota band tidak berempati atas kejadian itu, membuat Max marah dan murka. Akhirnya Max memutuskan untuk keluar dari Sepultura. Max merasa dikhianati. Fans Sepultura di seluruh dunia kecewa dengan kejadian itu, dan mereka meminta Sepultura dibubarkan saja. Karena mereka menggangap Max adalah rohnya Sepultura. Sepultura tanpa Max, bukan Sepultura…
Babak baru bermusik Max pun dimulai. Max mulai membuat proyek-proyek kecil untuk menyalurkan kekecewaannya. “Nailbomb” adalah proyek Max setelah keluar dari Sepultura. Tampilan visual cover album “Nailbomb” cukup menarik perhatian, dengan visualisasi wanita tua Vietnam yang ditodong senjata AK-47. Album ini diberi titel “Point Blank”. Tapi album ini tidak begitu meledak dipasaran. 


SUMBER:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar